Awal Mula Qurban di Muka Bumi

Awal Mula Qurban di Muka Bumi
17 Jul

Awal Mula Qurban di Muka Bumi

Pelaksanaan idul adha atau hari qurban setiap tahunnya tidak serta merta terjadi begitu saja. Ada sejarah panjang yang mengawali ibadah ini, bahkan sejak pertama kalinya manusia pertama di ciptakan, yakni nabi Adam As. Dua nama anak Nabi Adam As yang menjadi awal sejarah qurban di muka bumi adalah Habil dan Qabil.

Setelah anak keturunan Nabi Adam As dewasa, Allah SWT mensyariatkan (membolehkan) kepada Nabi Adam As untuk menikahkan salah satu dari pasangan kembar dengan salah satu dari pasangan lainnya. Ketika Nabi Adam As hendak menikahkan Habil dengan Iqlimiya dan Qabil dengan Layudha, proteslah Qabil dan memberontak atas pernikahan itu. Ia membangkang dikarenakan saudara kembar Habil jelek sedangkan saudara kembarnya cantik. Qabil menginginkan Iqlimiya karena merasa dirinya lebih berhak atas saudaranya kembarnya dibandingkan dengan Habil. Berdasarkan wahyu Allah SWT, Nabi Adam As lalu memerintahkan keduanya untuk berqurban, barangsiapa yang diterima qurbannya, maka dialah yang berhak atas keutamaan (menikahi saudara kembar Qabil yakni Iqlimiya).

Qabil berqurban dengan hasil pertaniannya. Ia berqurban dengan seikat gandum yang kualitasnya jelek. Ia tidak peduli apakah nanti qurbannya akan diterima atau tidak, karena ia sudah terlanjur sombong dan dengki. Sedangkan Habil berqurban dengan kambing muda lagi gemuk dengan kualitas terbaik. Ia ingin agar qurbannya diterima di sisi Allah Ta’ala. Setelah qurban Qabil dan Habil dipersembahkan, Allah SWT menurunkan api berwarna putih dan dengan izin-Nya api itu membawa qurban Habil (sebagai tanda bawa qurban Habil diterima di sisi Allah) dan meninggalkan qurban Qabil berupa gandum jelek tadi. 

Ada riwayat dari Al-Qurthubi yang menukil dari Sa’id bin Jubair rahimahullah dan lainnya bahwasanya kambing Habil diangkat ke surga dan hidup disana hingga diturunkan kembali ke bumi untuk menjadi tebusan saat peristiwa Nabi Ismail hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim As. 

Karena qurban Qabil tidak diterima, ia marah dan mengancam akan membunuh Habil. Ia tidak terima Habil menikahi saudara kembarnya. Allah SWT menuliskan kisah Qabil dan Habil didalam Al-qur’an Surat Al-Maidah ayat 27 yang artinya :

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diteirma kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.” (QS. Al-Maidah : 27)

Ketika Qabil berniat membunuh Habil, Habil tak membela diri. Ia menyerahkan dirinya dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk melawan. Ia berkata, 

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak menggerakkan tanganku aku membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Robb sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (pembunuhan ini) dan dosa kamu sendiri yang lain, maka kamu menjadi penghuni neraka, dan yang demkian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 28-29)

Habil melakukan tindakan demikian karena Qabil bukanlah orang kafir, melainkan pelaku maksiat. Ia khawatir jika ia melawan Qabil, ia punya keinginan yang sama seperti Qabil yakni membunuh lawannya, dan tentu itu bisa menyebabkan keduanya masuk neraka. 

Singkat cerita, Qabil tetap membunuh Habil meski Habil sudah memberikan nasihat dan peringatan. Dikisahkan pada suatu hari, saat Habil sedang menggembala kambing dan tertidur lelap di sela- sela ia menggembala, datanglah Qabil dengan membawa batu besar dan melemparkannya di kepala Habil hingga memecahkan kepala Habil. Riwayat lain menyebutkan bahwa Qabil membunuh Habil dengan cara dicekik dan digigit. Dan Habil meninggal ditangan saudaranya, Qabil. 

Jenazah Habil adalah jenazah pertama di muka bumi ini. Qabil tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk jenazah Habil. Perbuatan Qabil menjadi malapetaka bagi dirinya dan ia menanggung dosa dari pembunuhannya tersebut karena ia tidak bertaubat sekaligus dosa orang yang menirunya yakni melakukan pembunuhan melalui jalan yang tidak benar. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya :

“Tidaklah dibunuh suatu jiwa dengan zalim melainkan dosa pembunuhan itu akan ditanggungpula oleh anak Adam yang pertama (Qabil) karena dialah yang pertama memberi contoh pembunuhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah Qabil dan Habil terutama dibagian ketika mereka mempersembahkan qurban, menjadi awal mula sejarah lahirnya qurban dimuka bumi. Lalu bagaimana dengan kisah Nabil Ismail As dan Ibrahim As ? benarkan kambing Habil adalah tebusan bagi Ismail As saat ayahnya hendak menyembelih lehernya ?

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim As dan istrinya Siti Hajar dikarunia seorang bayi laki- laki yang diberi nama Ismail setelah Nabi Ibrahim bertahun- tahun menunggu kehadiran buah hati dengan istrinya Siti Sarah. Ismail tumbuh dan besar dengan kasih sayang yang melimpah dari nabi Ibrahim. 

Namun pada suatu ketika, tepatnya pada malam 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi didatangi seseorang yang membawa pesan dari Tuhan yang berisi perintah untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim kaget sekaligus ragu dengan mimpinya. Apakah itu benar- benar perintah dari Allah SWT atau bukan. Malam berikutnya Nabi Ibrahim bermimpi hal yang sama. Pada mimpi yang kedua ini, Nabi Ibrahim semakin yakin bahwasanya perintah untuk menyembelih Ismail adalah perintah dari Allah SWT. Oleh karenanya, tanggal 9 Dzulhijjah diperingati umat muslim sebagai puasa hari arafah (hari pengetahuan), yakni ketika Nabi Ibrahim mengetahui pesan dari Allah yang berisi perintah untuk menyembelih anaknya. 

Setelah disampaikan pesan mengenai mimpinya kepada nabi Ismail, Nabi Ismail pun rela untuk disembelih ayahnya kalau memang itu adalah perintah dari Allah SWT. Putra kesayangannya itu rela disembelih sebagai wujud ketakwaan dan keikhlasannya terhadap perintah Allah SWT. 

Tepat ditanggal 10 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bersiap melaksanakan perintah Allah. Parang yang sudah diasah mengkilap siap menyembelih leher nabi Ismail As. Nabi Ibrahim tetap tidak tega untuk membunuh putra kesayangannya, sampai Nabi Ismail berkata :

“Wahai ayahku, rupa- rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cobalah telungkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku.” Nabi Ibrahim menuruti apa yang dikatakan Ismail, namun parang itu tetiba tumpul dan tak mampu menyakiti Nabi Ismail As sedikitpun. Diproses inilah terungkap bahawasanya apa yang diperintahkan Allah SWT adalah ujian bagi keduanya. Sejauh mana Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As cinta dan taat terhadap Allah SWT. 

Nabi Ibrahim menunjukkan kesetiaannya yang tulus dengan mengorbankan Nabi Ismail As semata- mata untuk berbakti kepada perintah Allah SWT dan Nabi Ismail As tak sedikitpun ragu dalam melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan mempersembahkan wujud bakti kepada kedua orang tuanya dengan menyerahkan diri untuk dikorbankan. Pada saat itu, turun Wahyu Allah SWT yang berbunyi :

“Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar- benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar”.

Sebagai ganti nyawa Nabi Ismail As, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih seekor kambing yang telah tersedia disamping mereka dengan pisau yang hendak digunakan untuk menyembelih leher Ismail. Alkisah dikatakan bahwasanya kambing yang tiba- tiba muncul tersebut adalah kambing milik Habil yang dibawa malaikat dari surga. 

Kisah ini lah yang menjadi cikal bakal peringatan hari raya idul Adha bagi umat muslim. Mimpi Nabi Ibrahim As adalah wahyu dari Allah SWT. Keikhlasan dan keridhoan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As adalah bukti pelajaran berharga tentang makna berqurban yang sebenarnya.

Share